Anda harus mempunyai misi hidup di dunia ini agar hidup Anda berarti dan menggairahkan!!
Untuk mencapai sukses tentu saja tidak mudah, karena Anda juga harus menyikapi kegagalan dengan baik jika memang Anda menghadapi kegagalan. Untuk mencapai sukses kerap kali kita harus melewati kesalahan / kegagalan dalam hidup. Banyak orang ingin sukses tapi sedikit sekali yang berani untuk menghadapi kegagalan. Kalau Anda ingin sukses, Anda tidak boleh takut gagal!
Simak "Prestasi Kegagalan" seseorang dan bandingkan dengan diri Anda :
- Gagal dalam bisnis / bangkrut, 1831 - Dikalahkan dalam pemilihan legislatif, 1832 - Bisnis kembali bangkrut, 1834 - Tunangan meninggal dunia, 1835 - Nervous breakdown, 1836 - Dikalahkan dalam pemilihan legislatif, 1838 - Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Congress, 1843 - Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Congress, 1848 - Dikalahkan dalam pemilihan U.S Senat, 1855 - Dikalahkan dalam pemilihan untuk U.S Vice President, 1856 - Dikalahkan dalam pemilihan U.S Senat, 1858 -1860,
Namun Abraham Lincoln akhirnya berhasil Menjadi Presiden USA !!,
"You cannot fail... Unless you Quit!!"
Anda bayangkan, selama lebih dari 25 tahun Abraham Lincoln adalah seorang "juara gagal". Jadi sebenarnya kegagalan itu tidak ada selama Anda terus berjuang, bertahan, belajar dari kesalahan dan mencari cara yang lebih baik untuk mencapai kemenangan. Lain halnya jika Anda berhenti mencoba, maka pada saat itulah Anda pantas disebut sebagai orang yang gagal alias pecundang!.
Ingatlah bahwa:
"Winners never quit, Quitters never win !!"
Mengatasi Penyakit Dalih
Mengatasi Penyakit Dalih
Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan, begitu kata George Washington
Carver. Daripada mencari jalan keluar, mereka memilih untuk membuat
1001 dalih mengenai kegagalan mereka. Alhasil, kesempatan belajar pun terlewatkan begitu saja.
Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menjelaskan
mengenai penyakit pikiran yang mematikan alias penyakit dalih
(excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai kegagalan mereka. Penyakit dalih tersebut biasanya muncul 4 bentuk, yaitu: dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia dan dalih nasib.
Dalih kesehatan biasanya ditandai dengan ucapan, "Kondisi fisik saya
tidak sempurna", "Saya tidak enak badan", "Jantung saya lemah", dan
sejenisnya. Orang sukses tidak pernah menganggap cacatnya itu sebagai hambatan. Saya punya sahabat dekat yang menderita polio namun dikenal sebagai dokter spesialis ginjal sukses dan murah hati.
Sejumlah besar tokoh-tokoh dunia bahkan punya cacat fisik. Presiden
Amerika ke-32 Franklin Delano Roosevelt menderita polio, Shakespeare
lumpuh, Beethoven tuli, Napoleon Nonaparte memiliki postur tubuh yang sangat pendek.
Dalih inteligensi diitandai dengan ucapan, "Saya kan tidak pintar", "Saya kan bukan rangking teratas", "Dia lebih pandai", dan
sejenisnya. Inilah dalih yang paling umum ditemukan. Tanpa bermaksud
mengecilkan arti sekolah, saya ingin mengatakan kepa Anda bahwa tidak perlu jadi profesor agar Anda bisa sukses. Selanjutnya, dalih
usia yang ditandai dengan ucapan, "Saya terlalu tua", "Saya masih
terlalu muda", "Biarkan yang lebih tua yang duluan", dan sejenisnya.
Padahal tidak ada batasan usia dalam meraih sukses. Kolonel Sanders
memulai usahanya di usia 65 tahun. Berikutnya adalah dalih nasib, misalnya dengan mengatakan , "Aduh, nasib saya memang selalu jelek", "Itu sudah nasibku", "Itu memang takdir" Memang amat mudah
untuk selalu menyalahkan nasib. Padahal nasib kita ditentukan oleh
kita sendiri. Tuhan telah memberikan hidup dengan sejumlah pilihan.
Baru-baru ini, hati saya tertegun ketika menyaksikan siaran televisi
tentang seorang anak kecil yang ahli memainkan drum dalam kebaktian
rutin setiap minggunya pada sebuah gereja di Thailand. Titi, nama
bocah yang baru berusia 3 tahun itu memang layak dijuluki "drummer
cilik". Bertubuh mungil dengan 2 jari yang tidak sempurna, Titi yang
masih suka nge-dot ini menunjukkan kebolehannya menabuh drum. Tak berlebihan jika banyak yang menyarankan agar ia dimasukkan dalam
Guiness Book of Record.
Prestasi yang diraih Titi sungguh menggugah kesadaran saya. Lihatlah
betapa banyaknya orang yang memilih berdiam diri daripada melakukan
apa yang bisa mereka perbuat. Padahal apapun yang layak diraih layak
diupayakan dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Sayangnya,
potensi diri ini kerap hanya terkubur karena kebiasan kita membuat
dalih jika apa yang kita kerjakan tidak berjalan sesuai harapan kita
atau hasilnya tidak segera kelihatan. Gaya hidup modern yang serba
instant secara tidak langsung membuat kita sering mengharapkan hasil yang instant pula. Kita kepengen sekali makan durian tanpa mau
menanam, menyiram, memupuki dan merawat pohonnya.
Saya sendiri sempat terkejut membaca cerita tentang ilmuwan besar
seperti Albert Einstein yang pernah diusir dari sekolah karena dianggap lamban. Ia bahkan mendapat nilai buruk dalam pelajaran bahasa Yunani karena ingatannya yang lemah. "Tak peduli apa pun yang kamu lakukan, kamu takkan dapat melakukan apa-apa," kata gurunya. Guru lainnya menimpali, "Kamu Cuma merusak kelas saya!". Bahkan kepala sekolahnya mengatakan kalau Einstein tidak akan sukses dalam apa pun yang dikerjakannya.
Saya juga teringat kepada Thomas Alva Edison yang hanya bersekolah beberapa bulan namun tercatat sebagai pencipta terbesar sepanjang jaman dengan lebih dari 1.000 hak paten. "Saya mempunyai banyak ide tapi hanya sedikit waktu," ujarnya. Edison gagal di sekolah. Gurunya merasa Edison tidak punya minat belajar, pemimpi dan mudah sekali terpecah konsentrasinya. Yang sungguh membuat saya terharu adalah sikap Ibu Edison terhadap putranya. Ia terus mengajari Edison di rumah dan setiap kali Edison gagal, ibunya memberi harapan dan mendorongnya untuk terus berusaha.
Kalau orang gagal senantiasa berkata "itu tidak mungkin berhasil" maka orang sukses lebih suka berkata "mengapa tidak mencobanya dulu?". Daripada membuat alasan, orang sukses memilih untuk mencari cara mewujudkan impian mereka. Daripada berdiam diri dan menunggu datangnya kesempatan, mereka memilih pergi keluar dan menemukan kesempatan itu. Bahkan mereka mampu menciptakan kesempatan dalam kesempitan. E.M. Gray menegaskan, orang-orang sukses mempunyai kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak suka dilakukan orang gagal.
Jika saat ini Anda masih suka membuat dalih, buatlah komitmen untuk mengubah kebiasaan itu. Jangan biarkan potensi diri Anda dibelenggu oleh dalih-dalih Anda. Ingat selalu nasihat Theodore Roosevelt, "Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki, di mana pun Anda berada."
Sebagai akhir, ijinkanlah saya membagikan kepada Anda sebuah syair dari Afrika berjudul Perlombaan Saat Matahari Terbit. Setiap pagi di Afrika, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada singat tercepat. Jika tidak, ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor singa bangun, ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa terlamban. Jika tidak, ia akan mati kelaparan. Tidak penting apakah Anda adalah sang rusa atau sang singa. Saat matahari terbit, Anda sebaiknya mulai berlari. ***
Sumber: Mengatasi Penyakit Dalih oleh Paulus Winarto. Paulus Winarto adalah pemegang dua Rekor Indonesia dari MURI (Museum Rekor Indonesia), yakni sebagai pembicara seminar pertama yang berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa.
Masa Depan Indonesia
Masa Depan Indonesia Siswono Yudo Husodo
Di sekitar tanggal 17 Agustus adalah waktu yang tepat untuk melakukan kontemplasi, tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan negara kita. Sebelum kemerdekaan, 90 persen rakyat Indonesia buta huruf latin. Tidaklah mudah bagi para Perintis Kemerdekaan dan Angkatan 45 untuk mengajak rakyat dengan tingkat pendidikan yang begitu rendah agar sadar akan haknya untuk merdeka. Kondisi itu mengharuskan Bung Karno dan para pemimpin politik di masa itu, dalam mensosialisasikan gagasan kemerdekaan, menggunakan ungkapan yang mudah dipahami rakyat.
Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kemerdekaan dijanjikan akan menjadikan negeri ini gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto rahardjo, subur kangsarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku, (semua serba makmur, sejahtera, aman, tertib, dan teratur). Di daerah lain dikembangkan gambaran serupa. Keberhasilan meyakinkan rakyat telah membentuk tekad rakyat untuk "Merdeka atau Mati", menjadikannya kekuatan besar yang mampu mengusir penjajah yang memiliki persenjataan yang hebat.
Maju lebih cepat
Indonesia mengawali kemerdekaan negara-negara baru setelah berakhirnya Perang Dunia II. Lebih dari 30 negara baru di Asia dan Afrika berjuang merebut kemerdekaannya terinspirasi oleh keberhasilan Indonesia. Sejak merdeka, kita telah mencapai banyak kemajuan; tetapi banyak negara lain maju lebih cepat sehingga relatif kita tertinggal. Untuk menyebut beberapa di antaranya; di bidang pendidikan, Malaysia yang dulu meminta guru-guru Indonesia mengajar di sana, sekarang memiliki sistem, sarana, dan mutu pendidikan yang lebih baik dari kita. Dalam bidang sepak bola, Jepang dan Australia, 15 tahun yang lalu sulit mengalahkan PSSI, sekarang telah ikut final 32 negara terbaik di Jerman, sementara kita kesulitan untuk menjadi juara di tingkat ASEAN. Prof Jeffrey Sach, ekonom AS, memberikan perbandingan yang menarik. Di tahun 1984, ekspor Indonesia 4 miliar dollar AS dan ekspor China 3 miliar dollar AS. 20 tahun kemudian, di tahun 2005, ekspor Indonesia meningkat menjadi 70 miliar dollar AS dan ekspor China mencapai 700 miliar dollar AS. Di bidang pembangunan jalan tol, Indonesia memulai 10 tahun lebih dulu dari Malaysia dan 12 tahun lebih dulu dari China. Sekarang total panjang jalan tol di Malaysia 6.000 km, di China 90.000 km, dan di Indonesia baru 630 km.
Impian tentang negara yang sejahtera dan tertib juga belum menjadi kenyataan, dan sebagian masyarakat tampak gamang akan masa depan Indonesia. Di luar negeri juga banyak analisis tentang masa depan Indonesia dengan bermacam pendekatan, di antaranya ramalan bahwa negara kita akan mengalami disintegrasi seperti Uni Soviet dan Yugoslavia. Kajian Jared Diamond dalam buku Collapse di tahun 2005 meramalkan kehancuran Indonesia.
National Intelligence Council’s (NIC’s), organ Pemerintah Amerika Serikat (AS), pada tahun 2005 mengekspos kajian Rising Powers: The Changing Geopolitical Landscape 2020. Menurut telaahan tersebut, di tahun 2020 Indonesia bersama China, India, Afrika Selatan, dan Brasil adalah negara-negara yang pengaruhnya semakin meningkat. Argumennya, ekonomi Indonesia akan tumbuh 6-7 persen per tahun selama satu setengah dekade mendatang, dengan populasi sekitar 250 juta jiwa. Dari sisi populasi, Indonesia perlu memanfaatkan "bonus demografi" setelah tahun 2015 selama satu generasi. Pada masa itu, age dependency ratio, yaitu proporsi penduduk muda dan tua terhadap penduduk usia kerja menurun, yang kondusif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Pada waktu ini, semua bangsa bekerja keras, meningkatkan kesejahteraan warganya dengan kecerdikan dan pandangan yang jauh ke depan, karena tinggi rendahnya martabat suatu bangsa semakin diukur dari tingkat kesejahteraannya. Bank Dunia baru-baru ini mengumumkan bahwa pada tahun 2005, PDB China 2,2638 triliun dollar AS menjadikannya negara dengan ekonomi terbesar keempat dunia, menggeser Inggris. Di urutan pertama AS, diikuti Jepang dan Jerman. Goldman Sach, sebuah lembaga konsultan bisnis memperkirakan PDB China akan melampaui Jerman di tahun 2010, melampaui Jepang di tahun 2015, dan melampaui AS pada tahun 2040. Juga dilaporkan, PDB India akan mengalahkan Italia di tahun 2015, mengalahkan Perancis di tahun 2020, dan mengalahkan Jerman di tahun 2025. Di tahun 2040, China dan India akan tampil sebagai kekuatan terbesar ekonomi dunia. Pusat ekonomi dunia tidak lagi di Eropa atau Amerika, tetapi di Asia. Ekonomi Asia tumbuh bertahap sejak melejitnya Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Indonesia sepatutnya memberi andil yang signifikan dalam tampilnya Asia sebagai pusat perekonomian dunia, mengingat modal amat besar yang kita miliki.
Keunggulan komparatif
Banyak hal harus dilakukan untuk mencapai Indonesia yang maju, sejahtera, dan bersatu. Untuk tipologi negara kita, perlu dimanfaatkan pasar domestik yang amat besar, dipadukan dengan keunggulan komparatif yang kita miliki di sektor pertambangan, perikanan, perkebunan, kehutanan, pertanian, peternakan, dan pariwisata. Optimisme mengenai masa depan Indonesia dan semangat kemandirian juga perlu ditumbuhkan, untuk menjadi pendorong membangun negara yang sejahtera. Modal utama yang harus hadir adalah negara yang mantap terintegrasi; dengan dinamika internal yang semakin menyatukan masyarakat, dan bila terjadi friksi sosial, penyelesaiannya menempuh jalan yang damai dan santun. Jangan mengembangkan benih-benih konflik yang tak bermanfaat bagi masa depan kita.
Sukses suatu bangsa adalah buah kerja keras yang cerdas terarah. Amerika Serikat yang di masa lalu mampu memprediksi kebutuhan dunia akan teknologi informasi (TI), melakukan persiapan yang matang di lembaga-lembaga pendidikan dan ekonominya; sekarang menikmati posisi sebagai pemasok utama kebutuhan TI dunia. India sukses dengan pembangunan yang bertema Pro-People, dengan tingkat pemerataan yang tinggi dan kemandirian yang besar. Rakyat India memenuhi kebutuhan sehari-harinya, dari makanan, pakaian, mobil, traktor, pesawat tempur, dan lain-lain, buatan India sendiri, walau kurang bagus. Kondisi itu menumbuhkan kegiatan ekonomi yang besar. China tahun 2006 sangat berbeda dengan China tahun 1960-an, walau tetap menyatakan dirinya negara komunis, mengambil langkah-langkah yang paradoksal dengan konsep komunis, tanpa menimbulkan gejolak yang mengindikasikan kematangan masyarakatnya. Banyak pula negara yang harus menggali sumber daya ekonominya dengan mengorbankan hal-hal yang mendasar, seperti Malaysia yang negara Islam, membuka perjudian yang semarak di Genting Highland, untuk membiayai pembangunan negaranya.
Nyatalah bahwa setiap negara begitu cermat memanfaatkan peluang ekonomi yang ada. Di Indonesia, beberapa peluang bisnis yang ada dirusak oleh sekelompok orang seperti dalam sektor pariwisata dengan beberapa kali pengeboman. Beberapa usaha yang ditangani negara salah urus dan malah membebani keuangan negara. Kita semua memang perlu menjadi semakin dewasa untuk sesuai kapasitas, kewenangan dan kompetensinya membuat Indonesia menjadi lebih maju, lebih sejahtera, dan lebih baik.
Siswono Yudo Husodo Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila
K I S S
KISS (Keep It Simple Stupid) Efisiensi adalah suatu hal yang penting di dalam dunia manajemen. Sebagai seorang anggota tim yang baik, kita memiliki tanggung jawab bukan hanya dalam membawa tim kita mencapai tujuan bersama, tetapi juga tanggung jawab dalam mencari cara terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi. Tetapi seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah, dan walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit. Mari kita coba lihat dalam dua kasus di bawah ini : 1. Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan kertas) kosong. Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong. Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan. 1. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia ?. Mereka menggunakan pensil!. --- Moral cerita ini adalah sebuah filosofi yang disebut KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah. "Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa. Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita memiliki segalanya."
Kepala Ikan
KEPALA IKAN Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek -nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan. Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut.